Acara Rembug Evaluasi Program Muda Karya
Sejahtera melalui Usaha Muda Mandiri Berdikari (WISMANDI) Tahun 2025 yang
diprakarsai oleh PT Pertamina EP Cepu Zona 12 dan difasilitasi oleh IDFoS
Indonesia berlangsung dengan lancar dan produktif. Kegiatan ini dilaksanakan di
Javanila Cafe and Resto (11/12/2025) dan menjadi ajang evaluasi sekaligus ruang
kolaborasi antara berbagai pihak untuk memperkuat implementasi program
pemberdayaan pemuda berbasis ekonomi dan wisata edukatif di Desa Sendangharjo.
Dalam sambutannya, perwakilan Pertamina EP Cepu
Zona 12 menyampaikan bahwa program WISMANDI telah menjadi bagian dari komitmen
perusahaan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan usaha
produktif yang dikelola oleh pemuda desa. Program ini tidak hanya berfokus pada
aspek ekonomi, tetapi juga mengintegrasikan unsur edukasi, lingkungan, dan
kreativitas sebagai kekuatan utama.
Forum rembug ini dihadiri oleh sejumlah instansi
terkait, termasuk Dinas Peternakan yang memberikan perhatian khusus terhadap
rencana pengembangan wisata edukasi di kandang ayam BUMDes. Mereka menilai
bahwa kunjungan dalam jumlah besar berpotensi menimbulkan stres pada ayam, yang
dapat berdampak pada kesehatan ternak dan menurunkan produktivitas telur.
Karena itu, pendekatan teknis dan operasional harus diperhitungkan secara
matang.
Untuk menjawab potensi risiko tersebut, Dinas
Peternakan mengusulkan pembangunan kandang ayam terintegrasi, yaitu fasilitas
khusus yang dipersiapkan sebagai lokasi pembelajaran bagi pengunjung. Kandang
ini dirancang terpisah dari kandang produksi utama, sehingga kunjungan wisata
edukasi tetap dapat dilaksanakan tanpa mengganggu kenyamanan dan produktivitas
ribuan ayam petelur milik BUMDes. Usulan ini mendapat sambutan positif dari
peserta rembug.
Selain masukan dari sektor peternakan, Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Bojonegoro juga turut hadir dan
memberikan apresiasi tinggi atas capaian Program WISMANDI 2025. Menurut mereka,
Desa Sendangharjo memiliki keunggulan kompetitif karena mampu mengintegrasikan
tiga sektor sekaligus—agrowisata, peternakan, dan pengelolaan maggot serta
sampah terpadu—yang jarang dimiliki desa lain. Hal ini dinilai menjadi modal
kuat untuk mewujudkan Sendangharjo sebagai “Desa Wisata Edukatif”.
DISBUDPAR menegaskan bahwa untuk mencapai standar
“Desa Wisata” yang terkurasi, diperlukan pendampingan lanjutan terutama pada
aspek peternakan dan perkebunan. Mereka menyoroti pentingnya peningkatan SOP
kunjungan, keamanan rombongan, serta kualitas edukasi agar sesuai dengan
kebutuhan siswa dari berbagai tingkat sekolah. Standar operasional yang jelas
akan mempermudah pengelolaan arus pengunjung di masa mendatang.
Kebersihan menjadi perhatian utama DISBUDPAR,
mengingat mayoritas pengunjung wisata edukasi berasal dari kalangan siswa PAUD,
TK, dan SD. Mereka menekankan pentingnya menjaga sanitasi kandang, kebun, titik
kegiatan, serta area publik. DISBUDPAR mendorong penerapan SOP kebersihan pada
seluruh zona edukasi, termasuk penyediaan fasilitas cuci tangan, jalur aman,
serta area istirahat yang teratur untuk menciptakan kenyamanan bagi peserta
didik.
DISBUDPAR juga menyinggung pentingnya manajemen
pengunjung dan pengelolaan pemandu wisata, terutama ketika menerima rombongan
besar. Sistem rotasi, pembagian zona belajar, dan estimasi durasi kunjungan
perlu dirancang dengan baik agar seluruh kegiatan tetap berjalan lancar. Pada
sektor agrowisata, mereka mengingatkan perlunya materi edukasi alternatif
ketika tanaman tidak berbuah, seperti pembibitan atau teknik mencangkok modern.
Dari sisi kreativitas, DISBUDPAR mengusulkan agar
anak-anak tidak hanya membawa pulang produk mentah, tetapi juga hasil praktik
seperti melukis cangkang telur, membuat telur asin sederhana, atau memasak
omelet. Aktivitas seperti ini dinilai mampu memperkaya pengalaman belajar dan
memberi nilai tambah yang lebih bermakna bagi siswa.
Siti Erwiyanti Ketua Pengurus Daerah HIMPAUDI
Bojonegoro turut hadir Bersama Anggota Bidang Organisasi Nur Hasanah, Siti
Erwiyanti juga memberikan masukan terkait penguatan konten edukatif untuk anak
usia dini. HIMPAUDI menilai bahwa seluruh tema pembelajaran PAUD sangat relevan
untuk diterapkan di kawasan Agroeduwisata Sendangharjo. Mereka mengusulkan
penyediaan lahan khusus untuk praktik menanam tanaman berusia pendek, strategi
promosi yang terkoordinasi dengan kecamatan, serta penyediaan konten edukasi yang
variatif untuk jenjang PAUD, TK, hingga SD. Masukan ini diharapkan mampu
memperkaya konsep wisata edukasi yang sedang dikembangkan.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat
melanjutkan evaluasi dan perbaikan program WISMANDI secara berkala, sekaligus
memperkuat kerja sama lintas sektor agar manfaat program semakin besar bagi
masyarakat. Rembug ini menjadi bukti bahwa sinergi antara perusahaan,
pemerintah, dan masyarakat dapat mempercepat terwujudnya desa yang mandiri,
berdaya saing, dan berorientasi pada pengembangan pemuda.